Pinrang Sulawesi Selatan, Ekspedisi Sabuk Nusantara 2019

Bumi Lasinrang Kabupaten Pinrang

Kunjungan estafet Asidewi ke berbagai desa wisata di Nusantara yang bertajuk “Ekspedisi Sabuk Nusantara 2019, Desa Wisata Benteng NKRI” ini berlangsung mulai tanggal 10 Juni – 10 Juli 2019. Tim Ekspedisi Nusantara 2019 menyempatkan untuk mampir ke Banyuwangi Jawa Timur. Banyuwangi Jawa Timur sebagai tempat deklarasi ASIDEWI menjadi awal titik perjalanan ini, tim ekspedisi mengunjungi beberapa desa wisata di Jawa Timur, diantaranya; Desa Wisata Adat Osing Banyuwangi, Desa Wisata Tamansari Banyuwangi yang berada di lereng Gunung Ijen dan Desa Wisata Binor Probolinggo dengan icon Pantai Bohay-nya (Binor Harmony) yang sedang berjuang menjaga pantai dan terumbu karangnya dari pencemaran lingkungan.

Amor Paturusi dan Andi Yuwono

Selasa 11 Juni 2019 tim ekspedisi memasuki Bandar Udara Sultan Hasanudin Makassar, segera setelah melakukan persiapan secukupnya tim melanjutkan perjalanan darat menuju Tana Toraja. Dalam perjalanan yang rencananya ditempuh selama 8 jam tersebut, rombongan menyempatkan mampir di Bumi Lasinrang Kabupaten Pinrang menemui Amor Paturusi, seorang tokoh masyarakat sekaligus pejuang desa wisata, untuk merencanakan beberapa kegiatan pelatihan bagi pengelola desa wisata dan pemetaan potensi alam, budaya, sosial dan potensi ekonomi kreatif yang terdapat di desa Mattiro Tasi, Mattiro Sompe, Pinrang, Sulsel.

Berkat Amor Paturusi, kawasan wisata Pantai Harapan Ammani bisa hadir dan berkembang pesat seperti sekarang. Ia merasa memiliki tanggungjawab turut memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat di desanya yang selama ini sangat tertinggal. Menurut Amor, inspirasi mengubah kawasan tersebut menjadi seperti sekarang muncul karena dua penyebab. Pertama, terdorong oleh situasi kemiskinan yang mendera masyarakat di desanya. Kedua, karena adanya luberan pengunjung ke kawasan wisata Pantai Wakka, di desa tetangga, yang lebih dulu populer sebagai kawasan wisata pantai.

Dalam menginisiasi pembangunan pariwisata di desanya, Amor mengajak dua sepupunya, Nasir dan Syarif untuk patungan pembiayaan, “Kami coba berkumpul dengan warga dan pemilik lahan merencanakan pembangunan kawasan ini menjadi destinasi pariwisata berbasis masyarakat. Kami rapat bersama hingga tiga kali sebelum akhirnya memutuskan untuk segera merealisasikannya.” Karena tak ada investor dari luar, sebagai biaya awal, Amor patungan dengan tiga warga lainnya. Dana yang terkumpul sebanyak Rp150 juta digunakan untuk membangun akses jalan masuk ke kawasan tersebut. “Dulu untuk masuk ke sini harus melewati jalan kecil, pematang tambak. Bahkan untuk jalan kaki pun harus hati-hati agar tak terpeleset jatuh. Atas izin dari pemilik tambak kita adakan penimbunan tambak untuk perluasan jalan. Untungnya ada dana PNPM khusus untuk membantu pelebaran jalan tersebut, sementara pembiayaan di dalam kawasan sepenuhnya swadaya warga,” kata Amor.

Pantai Harapan Ammani Mattiro Tasi, Mattiro Sompe Pinrang Sulsel

Keberhasilan pengelolaan kawasan wisata berbasis swadaya masyarakat ini akhirnya menarik perhatian pemerintah dan berbagai pihak. Bantuan mulai berdatangan, seperti perbaikan jalan, pembangunan instalasi listrik, dan perbaikan sempadan pantai. Bantuan lainnya berupa pengadaan freezer dan tempat sampah juga mulai berdatangan dari instansi-instansi terkait.

Model Pengelolaan Desa Wisata Mattiro Tasi

Desa Wisata Mattiro Tasi merupakan desa wisata yang berbasis masyarakat dalam hal pengelolaannya, ini dapat dilihat mulai dari perencanaan dan model pengeolaan yang mengedepankan proses musyawarah seluruh komponen masyarakat desa. Prinsip-prinsip Sapta Pesona telah diterapkan di semua lini, baik manajemen maupun kawasan wisata. Pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat di sini sudah memenuhi prinsip pengembangan dan pengelolaan desa wisata yang berkeadilan dan berkelanjutan, serta berpegang teguh pada kearifan lokal dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Hal menarik dari pengelolaan kawasan ini adalah sistem pembagian hasil antara pengusaha, pemilik lahan, dan pengelola dan pemerintah. Untuk setiap ‘basket’ atau keranjang ikan yang benilai Rp 400 ribu, sebanyak Rp 20 ribu dibagikan kepada pengelola dan pemilik lahan. Khusus untuk pemerintah desa mereka memperoleh ‘jatah’ dari hasil retribusi parkir sebanyak 20 persen.

Hal menarik lainnya adalah pada kesadaran warga untuk saling mendukung satu sama lain. Seorang pedagang hanya diperkenankan memiliki satu jenis usaha agar ada pemerataan penghasilan. “Kalau dia menjual ikan bakar maka tak boleh bikin usaha lain seperti es kelapa, jual pakaian, sewa perahu atau ban. Kita ingin semua warga di sini bisa bekerja tak ada yang monopoli,” ungkap Amor. Untuk menjaga kenyamanan dan keamanan kawasan tersebut, mereka memiliki aturan ketat terkait larangan bagi pengunjung membawa senjata tajam dan minuman beralkohol. Bagi pedagang yang melanggar akan ada sanksi.

Meski telah berkembang besar dan populer, Amor berharap kawasan tersebut bisa dikelola lebih baik di masa mendatang dan untuk itu mereka membutuhkan dukungan pemerintah dan pihak-pihak lain, terutama Asidewi diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan kapasitas lembaga dan pengelola. “Kita harap di kawasan ini ada semacam tower pengawas dan tenaga pengawas pantai. Kita juga berharap ada dukungan pelatihan-pelatihan bagaimana memberi pelayanan yang baik kepada pengunjung. Dukungan lain yang kami harapkan adalah agar bangunan-bangunan yang ada bisa diperbaiki kondisi dan bentuknya, supaya lebih nyaman dan bisa bertaraf internasional,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *