Let's Chat

ASIDEWI, Sebuah Harapan dari Tanah Matraman

Malam itu, tepatnya di Surabaya, saya diundang salah satu senior saat kuliah dulu untuk menikmati kopi dalam suasana pasca-lebaran. Saya diajak untuk bertemu dengan seseorang yang ia pernah ceritakan ke saya jauh hari sebelumnya. Seseorang yang tentu menarik perhatian saya sebagaimana cerita tentangnya beririsan dengan fokus studi saya saat ini.

Namanya Andi Yuwono, seseorang dari kota Blitar, dengan aksen bahasa ala Matraman dan artikulasi yang khas, kami berdiskusi panjang kala itu. Ia menceritakan banyak hal, perihal hiruk pikuk pariwisata Indonesia. Dan salah satu yang menarik adalah narasinya tentang potensi pariwisata Indonesia melalui desa-desa. Bagi saya, salah satu apresiasi terbesar kepadanya adalah perjuangan dalam memulai perubahan justru dari tanah Matraman, dari sudut-sudut pinggiran.

Matraman memang indah. Saya mengaku demikian, karena saya pernah bekerja di kediaman “Ratu Gayatri” dalam skala waktu tertentu. Masyarakat yang ramah dan kearifan lokal yang masih terjaga, saya belajar banyak hal. Selain itu, saya musti mengamini bahwa betapa luar biasanya potensi akan pariwisata di sana. Potensi yang seharusnya bisa menjadi daya tarik dan simbolik bagi tanah Matraman. Potensi yang kelak ‘mungkin’ dapat menghidupkan basis ekonomi alternatif masyarakat sekitar. Potensi yang kapan saja bisa punah bila tidak ada kesadaran untuk merawat dari masyarakat atau justru pada akhirnya menjadi akar penyebab ketidakseimbangan ekologi alam. Tentu semuanya kembali kepada kesadaran masyarakat di sana.

Namun, untuk memunculkan kesadaran tersebut memang tidaklah mudah. Dibutuhkan kerja keras dari berbagai individu. Kerja keras untuk mewacanakan kembali betapa pentingnya kesadaran tersebut. Kesadaran yang tentu tidak muncul begitu saja dari langit, tetapi –sekali lagi- dari kerja keras masing-masing seseorang. Apa yang dilakukan Andi Yuwono memang tepat. Bagi saya, kesabaran dan perjuangan yang ia tempuh memang tidaklah instan. Ia berhasil menyelamatkan potensi pariwisata yang hampir terbenam oleh ketidak-ada-nya kesadaran tersebut.

Tetapi Andi Yuwono tidaklah sendirian, dengan segelintir kawan, ia berhasil menempuh perjuangan itu. Melalui perjalanan desa ke desa, melalui forum ke forum, sampai pada akhirnya, ia mendirikan sebuah wadah bernama ASIDEWI (Asosiasi Desa Wisata). Sebuah wadah perkumpulan desa-desa wisata, yang singkatnya bertujuan untuk menjadikan kearifan lokal menuju desa wisata hebat bangsa bermartabat.

Singkat cerita, apa yang saya catat hanyalah permulaan. Sejauh perkenalan awal saya dengan Andi Yuwono yang tentu saja belum bisa menyimpulkan banyak hal dalam catatan ini. Ada kisah-kisah berikutnya yang akan menjadi catatan menarik. Ada sesuatu di sana yang apa dilakukan oleh ASIDEWI kelak perlu dituliskan dalam teks narasi tentang potensi pariwisata desa-desa di Indonesia.

Saya sebagai salah satu seseorang yang fokus studi di dunia Pariwisata, sangat menyadari bahwa perubahan-perubahan – dalam konteks pariwisata Indonesia-, sesungguhnya memang harus dilakukan dari bawah, bukan dari atas. Dan perubahan-perubahan tersebut haruslah dilakukan dengan kerja keras.

Recommended For You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *