Let's Chat

Festival Pesona Mentawai 2016

Tarian Suku Mentawai di Festival Pesona Mentawai
Festival Pesona Mentawai

Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat menggelar Fam Trip dengan beberapa media dan Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi). Kegiatan ini dalam rangka mempublikasikan event “Festival Pesona Mentawai 2016” yang rencananya akan digelar pada bulan April mendatang.

Festival Pesona Mentawai adalah sebuah festival/karnaval tradisional yang diadakan setiap tahun sejak 2016 di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Festival tersebut ditujukan untuk mempromosikan pariwisata nasional dan internasional kepada Kabupaten Kepulauan Mentawai, yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia. Kegiatan Festival Pesona Mentawai tersebut akan dipusatkan di Pantai Mapadegat, Kecamatan Sipora Utara. Dan akan ditampilkan aktifitas budaya khas Mentawai, kegiatan sehari-hari masyarakat, aktifitas bahari serta atraksi seni dan pameran kebudayaan. Fam Trip Mentawai dilaksanakan selama satu minggu, mulai Rabu (24/2) sampai dengan Selasa (1/3). Lokasi kegiatan berada di beberapa spot seperti Pantai Mapadegat Pulau Sipora, Pulau Awera, dan Pulau Siberut.

Kepulauan Mentawai adalah tempat terluar di Indonesia. Kawasan ini juga merupakan salah satu destinasi wisata andalan Indonesia karena pesona bawah lautnya yang menawan. Disamping itu ombaknya yang besar dan juga termasuk salah satu spot surfing terbaik di dunia.

Kepala Disbudparpora Kepulauan Mentawai Desti Seminora, SE. menjelaskan jika selain untuk mempublikasikan event dan potensi wisata. Kegiatan Fam Trip ini sedianya juga bertujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal bidang pariwisata.

“Fam Trip ini kami gelar sebagai ajang publikasi event Festival Pesona Mentawai 2016 dan ajang promosi wisata Kepulauan Mentawai. Lebih dari itu, kami juga ingin agar masyarakat lokal nantinya dapat ikut terlibat dalam acara tersebut, untuk itu turut kami siapkan SDM lokalnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, wanita asli Suku Mentawai ini juga menambahkan, karena pentingnya persiapan SDM masyarakat lokal dalam menyambut Festival Pesona mentawai 2016, ia turut melibatkan Asidewi dalam acara fam trip tersebut.

“Sangat disayangkan rasanya, jika dalam festival nanti masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Untuk itu dalam fam trip ini kami juga melibatkan Asidewi yang bisa memberikan pelatihan kepada penduduk lokal. Pelatihan tentang kesiapan mengelola usaha wisata berbasis masyarakat, seperti Homestay, usaha kuliner dll,” tambahnya.

Sementara itu, ketua Umum Asosiasi Desa Wisata Indonesia Andi Yuwono,S.Sos.,M.Si menegaskan jika masyarakat lokal Kepulauan Mentawai harus peka menangkap potensi dalam event ini. Pria yang akrab dipanggil Katip itu juga menjelaskan jika masyarakat lokal harus ikut menikmati lezatnya kue pariwisata, dan tidak menjadi penonton saja. Kami dari Asidewi juga siap untuk membantu mengawal kesiapan SDM masyarakat lokal,” tegasnya. Dalam serangkaian acara fam trip yang dilakukan selama satu minggu itu, para peserta diajak berkeliling Kepulauan Mentawai. Beberapa awak media yang turut dilibatkan diharap bisa mendokumentasikan giat tersebut dan mempublikasikannya ke masyarakat luas. Hal tersebut mengingat begitu besarnya skala event ini karena sedianya akan melibatkan kurang lebih 10 negara.

Heru Dwi S mengungkapkan, bahwa ia sangat senang turut punya andil dalam hal mendokumentasikan potensi wisata Kepulauan Mentawai. Selain itu pria kelahiran Trenggalek, Jawa Timur tersebut juga mengaku jika Kepulauan Mentawai adalah salah satu tempat wisata terbaik yang pernah dijumpainya.

“Saya senang bisa ikut berpartisipasi dalam fam trip ini. Luar biasa pesona Kepulauan Mentawai, Indonesia sangat beruntung bisa memiliki tempat seindah ini,” ungkapnya.

Ribuan wisatawan dan warga lokal terpukau menyaksikan ritual pengusiran roh jahat di Pantai Mapaddegat, saat Festival Pesona Mentawai 2016. Penampilan para si Kerei dari Siberut Selatan memakai atribut unik gendang tradisional dari ruyun dan kulit ular piton dan biawak. Satu jam lamanya ritual itu dilakukan dipentas seni dan budaya, kemudian dilanjutkan tari kolosal perang oleh anak-anak pelajar. 100 Pelajar memakai atribut Mentawai berupa parang, dan tameng. Mereka membawakan tarian kolosal yang diiringi oleh nyanyian ratapan terhadap perang yang membunuh saudara-saudara mereka akibat perang.

Turuk atau tari tradisional bagi orang Mentawai memiliki keunikan budaya tersendiri. Karena, tari tradisional Mentawai tidak sekadar tari biasa, namun memiliki nilai sakralitas yang sangat dalam. Gerakan Turuk Laggai pada umumnya menyerupai perilaku binatang yang ada di daerah berjulukan Bumi Sikerei itu. Misalnya, uliat manyang (perilaku elang) saat terbang mengintai mangsa, begitu juga uliat turugou-gou’ (tari ruak-ruak), uliat bilou (perilaku monyet) dan gerakan binatang lainnya.

Ketua Sanggar Seni Budaya Uma Jaraik Sikerei Desa Muntei, Yosep Sagari mengatakan, Turuk Laggai yang digunakan untuk ritual pengobatan tidak boleh dipertontonkan, karena hal tersebut merupakan pantangan yang tidak boleh dilanggar. Dikatakan, di Mentawai sedikitnya ada 15 uliat yang biasa digunakan Sikerei dalam melakukan ritual. Jadi, jika ada turuk laggai yang boleh dipertontonkan di khalayak ramai, itu bukan yang digunakan untuk ritual pengobatan.

Setelah penampilan atraksi turuk, Yosep Sagari mengakui, dedaunan yang digunakan peserta selalu dikumpulkan kembali dan diletakkan di tempat yang sejuk dan tidak boleh dibuang sembarangan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Lebih jauh, Yosep Sagari mengatakan, turuk laggai yang dilakukan oleh sekelompok Sikerei dalam ritual pengobatan, biasanya untuk orang yang dianggap rohnya telah pergi dari dirinya dengan memakai uliat sinak-nak simagre (memanggil roh).

Selain ritual pengobatan yang dilakukan Sikerei, ada juga ritual pesta adat perkawinan (punen), anak lahir, syukuran, pesta sakral dan lainnya. Dikatakan, dalam lomba turuk laggai pada kegiatan Festival Pesona Mentawai (FPM) merupakan turuk biasa yang kategorinya boleh dipertontonkan, sifatnya bukan ritual. Untuk kategori penilaian lomba turuk laggai, yaitu kekompakan entakan kaki, keserasian atribut dan nyayian yang digunakan sesuai turuk yang dibawakan.

Jumlah peserta turuk laggai sebanyak 150 dari 10 tim peserta tingkat dewasa dan 6 tim tingkat remaja. Setiap peserta turuk laggai masing-masingnya bervariasi ada 5 orang dan juga ada lebih dari 5 dalam satu tim, tukasnya.

Kepala Disbudparpora Kepulauan Mentawai mengatakan, Festival ini juga sebagai upaya membangkitkan kembali seni budaya di setiap daerah di Mentawai.

“Kita akan gelar beragam kegiatan akan ditampilkan kebudayaan mentawai selama berlangsungnya Festival Pesona Mentawai ini. Diantaranya kuliner tradisional, atraksi seni budaya, permainan anak nagari dan olahraga surfing internasional,”. “Selama 4 hari itu, diprediksi pengunjung yang datang baik luar dan dalam Mentawai sendiri 6000 ribu orang,” ujarnya. Festival Pesona Mentawai yang akan diramaikan oleh seluruh komunitas dan sanggar yang ada di Mentawai, seperti komunitas TATO dan panahan.

Tahun kunjungan wisata Sumatera Barat dengan tagline Visit Beatiful West Sumatera merupakan upaya strategi pengembangan pariwisata yang terintegrasi. Hal ini melibatkan seluruh stakeholders di Sumbar untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan mendorong nilai ekonomi semua sektor potensial daerah.(Her/Haz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *