Bojonegoro, Jawa Timur — Desa kini bukan lagi sekadar wilayah pinggiran, melainkan pilar utama kekuatan ekonomi nasional. Hal ini ditegaskan dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Perencanaan dan Pengembangan Potensi Desa yang digelar di Hotel Aston Bojonegoro, Selasa (23/12/2025).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Lestari Muda Indonesia bekerja sama dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) serta Tim Potensi Inovasi Desa (TPID) dari 12 desa di Kecamatan Gayam ini, bertujuan mendorong desa agar lebih mandiri dalam mempromosikan keunggulannya secara berkelanjutan.
Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI), Andi Yuwono, menekankan bahwa pengembangan desa tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Kuncinya terletak pada daya tarik dan nilai jual yang dikemas secara menarik melalui teknologi digital.
”Potensi itu tidak harus sesuatu yang mahal. Yang penting menarik dan memiliki nilai. Di era sekarang, kekuatan media sosial sangat berpengaruh,” ujar Andi.
Ia mencontohkan Kelompok Seni Karawitan Madu Laras dari Desa Begadon yang tampil dalam acara tersebut. Menurutnya, perpaduan antara budaya tradisional dan kemampuan konten digital—terlebih dengan adanya keterlibatan Generasi Z sebagai sinden—menjadi strategi jitu untuk menarik minat dunia luar.

Budi Wahono, pemimpin Kelompok Madu Laras, menyambut baik adanya wadah kolaborasi ini. Bagi para seniman lokal, ruang seperti ini bukan sekadar panggung tampil, melainkan sarana interaksi yang vital.
”Ruang apresiasi seperti inilah yang kami butuhkan. Interaksi yang terbangun membuat kami semakin bersemangat untuk terus berkarya,” tuturnya.
Ali Mahmud, selaku Person in Charge (PIC) program, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan kelanjutan dari kegiatan “belanja inovasi” yang dilakukan Oktober lalu. Tujuannya adalah membantu desa menemukan identitas atau ikon unik mereka sendiri melalui TPID.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan, mengajak seluruh pihak untuk lebih aktif menyebarkan berita positif tentang kekayaan lokal Bojonegoro, mulai dari kuliner hingga tradisi desa.
“Bojonegoro membutuhkan lebih banyak orang yang berinisiatif mengeksplorasi potensi dan kekayaan lokal. Dengan begitu, dunia akan tahu bahwa ikon desa di Bojonegoro sangat beragam,” pungkas Gunawan saat menyerahkan perangkat dokumentasi kepada perwakilan TPID sebagai simbol dukungan aktivasi potensi desa.
Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Kepala DPMD Bojonegoro Machmuddin dan Sekretaris Disbudpar Lukiswati, yang mempertegas komitmen pemerintah dalam mendukung kemajuan desa berbasis kearifan lokal.




