Blog  

Pelatihan dan Sertifikasi BNSP Pengelola Desa Wisata Digelar ASIDEWI

Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) menggelar Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi BNSP bagi Pengelola Desa Wisata pada Selasa–Rabu, 28–29 Januari 2029. Kegiatan ini berlangsung di ASIDEWI Learning Center di kawasan Bimasakti Farm Kecamatan Pacet, dan diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah Indonesia. Program ini menjadi bagian dari upaya penguatan sumber daya manusia desa wisata melalui standar kompetensi nasional.

Pelatihan dan sertifikasi ini diselenggarakan secara gratis bagi anggota dan mitra ASIDEWI dengan kuota peserta terbatas. ASIDEWI menggandeng Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Pesona Indonesia serta Yayasan Bima Sakti Peduli Negeri dan Universitas Ciputra Surabaya dalam pelaksanaan kegiatan. Kolaborasi tersebut menandai langkah awal penguatan jejaring antar lembaga dalam pengembangan desa wisata.

Ketua ASIDEWI Andi yuwono dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi lintas pihak menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan industri pariwisata yang sangat rentan. Ia menilai sektor pariwisata sangat rentan terhadap perubahan kondisi eksternal, termasuk faktor cuaca ekstrem dan dinamika ekonomi. Oleh karena itu, kerja sama antarlembaga dinilai penting agar desa wisata mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

Sebagai bentuk konkret kolaborasi, ASIDEWI bersama mitra mendirikan ASIDEWI Learning Center sebagai pusat pengembangan SDM desa’ wisata Indonesia. Fasilitas ini berfungsi sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia desa wisata secara nasional. Model pembelajaran yang diterapkan menggabungkan teori di kelas dengan praktik langsung di desa-desa sekitar Pacet mojokerto melalui pendekatan learning by doing.

Pelatihan ini juga berkaitan langsung dengan penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengelola Desa Wisata. Andi Yuwono dan Ahmad suhaib  pengurus ASIDEWI yang terlibat dalam perumusan SKKNI pengelola desa’ wisata tersebut menjelaskan bahwa sertifikasi ini merupakan angkatan ke dua setelah penerapan awal SKKNI. Sertifikasi pertama sebelumnya dilaksanakan pada Oktober 2025 di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Direktur sekaligus perwakilan LSP Pariwisata Pesona Indonesia, Dewi Mayasari, menegaskan pentingnya standar kompetensi dalam pengelola desa wisata. Ia menyampaikan bahwa kompetensi harus berbasis standar agar dapat diukur secara objektif. Menurutnya, skema pengelola desa wisata memiliki ruang yang luas, mulai dari pengelola utama hingga fungsi pendukung seperti pemasaran dan administrasi.

Dewi Mayasari juga mengaitkan pengembangan desa wisata dengan kebijakan nasional sektor pariwisata. Ia menyebutkan bahwa desa wisata berperan dalam menjaga kearifan lokal, budaya, serta mendukung aspek keamanan dan kenyamanan wisatawan. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya membangun citra pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

Peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil di Sulawesi Tenggara dan Sumatera Selatan serta beberapa kabupaten di pulau Jawa. Kehadiran mereka mencerminkan semangat pelaku desa wisata dalam meningkatkan kapasitas diri meski menghadapi keterbatasan geografis. Beberapa peserta juga berbagi pengalaman pengelolaan desa wisata berbasis alam , kearifan lokal budaya, pertanian, hingga pesantren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Let's Chat