Gianyar, Bali – Akselerasi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) desa wisata di Indonesia resmi dimulai. Menindaklanjuti peluncuran ASIDEWI Learning Center (ALC) di Mojokerto akhir Januari lalu, Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) langsung tancap gas melakukan roadshow perdana di wilayah Indonesia Timur, dimulai dari Kampung Budaya Kertalangu Denpasar, Desa Wisata Guang Sukawati Gianyar, Desa Wisata Undisan Bangli, Desa Wisata Bakas, dan Shiva Industries Pengolahan sampah organik, Bali, Kamis (05/02/2026).

Ketua Umum ASIDEWI, Andi Yuwono, menegaskan bahwa kehadiran ALC di Bali bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan misi strategis untuk mensosialisasikan wadah pusat pengembangan kompetensi.
“Kami ingin memastikan bahwa jejaring desa wisata di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah Timur, tahu dan bisa memanfaatkan ALC sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan penguatan kapasitas pengelola. Setelah Bali, kami akan bergerak menuju Nusa Tenggara Timur dan Banyuwangi,” ujar Andi.
Pertemuan ini tidak hanya membahas manajemen organisasi, tetapi juga masuk ke ranah konten wisata yang berkelanjutan. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah integrasi pertanian organik sebagai atraksi wisata berbasis kearifan lokal.
Sekretaris Desa Wisata Guang, Agung Oka Widyana, menyambut antusias gagasan ini. Menurutnya, konsep pertanian organik sangat relevan dengan lanskap Desa Guang yang didominasi persawahan.

“Pertanian organik adalah isu masa depan. Ini bukan sekedar cara bercocok tanam, tapi menjaga keberlangsungan pangan dan ekosistem tanah. Tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat, dan itulah nilai jual yang ingin kita tawarkan kepada wisatawan pengalaman hidup sehat di tengah alam,” ungkap Agung Oka.
Lebih jauh, forum ini menekankan peran vital Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai motor penggerak masyarakat. Agung Oka menekankan bahwa pengembangan desa wisata tidak boleh meminggirkan sektor utama masyarakat, seperti petani.
“Pokdarwis berperan sebagai motivator. Kami tidak ingin pengembangan wisata membuat sektor lain pincang. Semua komponen masyarakat, termasuk petani, harus terlibat sehingga aktivitas keseharian mereka pun menjadi atraksi wisata yang bernilai. Jika semua bergerak bersama, ini akan menjadi kekuatan luar biasa,” pungkasnya.
Dengan kehadiran ASIDEWI Learning Center, para pengelola desa wisata diharapkan mampu mengemas potensi lokal, seperti pertanian organik menjadi produk wisata berkelas yang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi desa tanpa merusak tatanan sosial dan alam.




